jump to navigation

Teologi September 21, 2012

Posted by gpia in Artikel.
trackback

Anda pernah mendengar nama Hans Kung? Mungkin pernah. Mungkin juga belum.
Ia adalah salah seorang teolog Roma Katolik yang paling terkemuka dan juga paling kontroversial. Lahir di Swiss, belajar di Roma dan Sorbone, lalu bekerja di Jerman. Pengarang banyak buku hebat, serta pemegang banyak gelar doktor kehormatan dari mana-mana.
Pada tahun 1962, ia diangkat oleh Paus Yohanes XXIII menjadi penasihat resmi masalah-masalah teologi pada Konsili Vatikan II. Namun, Paus Yohanes Paulus tidak menyukai pemikiran-pemikirannya. Kini ia profesor Dogmatika dan Teologi Ekumenika serta Direktur Institut Riset Ekumenis di Universitas Tubingen, Jerman Barat.
Bukunya terakhir yang berjudul Teologi Untuk Milenium Ketiga merupakan bestseller, buku terlaris. Walaupun sesungguhnya tidak mudah untuk dipahami, paling sedikit bagi saya.
Asumsinya adalah bahwa menyongsong milenium ketiga (abad ke-21), yang banyak disebut orang sebagai “zaman purnamodern” (tapi ia lebih suka menamakannya “zaman ekumenis”), teologi kristiani yang ada tengah mengalami krisis yang amat hebat. Krisis kepercayaan dan krisis pemahaman. Orang purnamodern tidak lagi memercayainya dan tidak lagi memahaminya.
Untuk mengatasi krisis tersebut, menurut Kung, jalan yang mesti ditempuh oleh teologi tidak boleh sekadar berpaling ke belakang, kembali pada bentuk-bentuk kepercayaan yang tradisional. Atau, dalam kepanikan menyesuaikan diri begitu saja secara oportunistis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Jadi, mesti bagaimana? Agar teologi kristiani mampu meraih kepercayaan dan mempunyai relivansi sosial setelah tahun 2000 nanti, ia harus merupakan “penjabaran iman kristiani yang secara intelektual dapat dipertanggungjawabkan; pada satu pihak, tetap setia pada Injil, dan di pihak lain mampu menjawab tantangan zaman baru”.
Teologi yang dibutuhkan, menurut Kung, adalah teologi yang mampu berfungsi ke belakang, ke depan, maupun ke samping. Ke belakang, ia mesti mampu mengatasi “konflik-konflik klasik” yang terjadi sejak zaman Reformasi (abad ke-16). Ke depan, ia harus mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang muncul pada zaman purnamodern (abad ke-21). Dan ke samping, ia harus mampu menghubungkan diri secara teologis dengan keberadaan agama-agama lain.
Apa kesan Anda setelah membaca sejauh ini? Bingung dan tidak mengerti bahwa teologi seruwet itu? Saya tidak menyalahkan Anda. Teologi memang ruwet dan rumit. Tidak semudah dan sesederhana yang diperkirakan orang.
Mengenai teolog, sekarang ini ada dua pandangan ekstrem yang sama-sama salahnya. Pandangan salah yang pertama mengatakan bahwa semua orang kristiani adalah teolog. Teologi adalah sesuatu yang amat mudah dan sederhana. Kursus Alkitab tertulis beberapa bulan, apalagi bila sudah mempunyai gelar M.Div. atau S.Th. di sekolah-sekolah teologi yang semakin menjamur banyaknya, dianggap sudah cukup untuk melahirkan teolog-teolog.
Situasi ini amat berbahaya sebab akan melahirkan orang-orang yang tidak tahu, tetapi merasa tahu. Sama bahayanya seperti mantri-mantri kesehatan yang merasa diri (dan berpraktik!) sebagai dokter bedah.
Kesalahan ekstrem yang kedua ialah yang menganggap bahwa hanya para sarjana teologi atau para doktor teologi sajalah yang berteologi. Teologi lalu menjadi esoteris, artinya, suatu ilmu rahasia yang hanya dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir orang.
Situasi ini juga amat berbahaya. Dari sikap ini lahirlah anggapan bahwa seorang politikus kristiani hanya berpolitik, dan tindakan politiknya itu terpisah sama sekali dari teologi. Atau, seorang usahawan kristiani hanya berdagang, dan mempersetankan teologi. Atau, teolog kristiani hanya berteologi, buta terhadap realitas kehidupan. Teologi lalu kehilangan relevansi sosialnya seperti yang dikatakan Hans Kung.
Jadi, bagaimana seharusnya? Menurut keyakinan saya, setiap orang kristiani harus didorong dan dibina untuk berteologi secara sadar dan secara benar. Sebab sesungguhnya, setiap kali seseorang berusaha menghubungkan kenyataan hidup sehari-hari dengan iman kristianinya, setiap kali itu pula ia sedang berteologi. Hanya saja sering tanpa sadar.
Namun, itu tidak berarti dengan gampangnya kita menahbiskan setiap orang yang menjadi teolog. Sebab, yang dapat disebut teolog adalah mereka yang secara khusus belajar dan menguasai ilmu teologi. Berteologi adalah kewajiban setiap orang, tetapi tidak semua orang berhak disebut teolog.
Lalu, apa gunanya para teolog itu? Gunanya adalah untuk menolong semua orang kristiani supaya tidak saja berteologi secara sadar, tetapi juga berteologi dengan benar.
Situasinya dapat saya bandingkan demikian, yaitu setiap orang sebaiknya dan seharusnya mengetahui dan mempraktikkan hidup sehat. Namun demikian, kita toh tetap memerlukan dokter-dokter yang menguasai ilmu kedokteran. Semakin ahli semakin baik.
Dan mengapa semua ini perlu dikemukakan? Karena mengenai teologi ini, rasa-rasanya semakin banyak orang merasa diri sebagai dokter, bahkan berpraktik sebagai dokter, padahal tidak menguasai ilmu kedokteran dengan cukup. Akibatnya, sama berbahayanya. Dokter gadungan membahayakan jiwa. Walau tak perlu disangkal, yang gadungan itu boleh jadi lebih menarik banyak pasien.
Sayangnya, kalau untuk berpraktik dokter diperlukan izin, sedangkan untuk berteologi tidak. Sebab itu, kita mesti amat teliti dan hati-hati.
Eka Darmaputera

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: